Membangun Kapasitas dan Karakter Kader  PK IMM Ahmad Dahlan Lamongan



Lamongan — Pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Aula SMA Muhammadiyah 4 Lamongan, telah dilaksanakan kegiatan Upgrading Kader PK IMM Ahmad Dahlan Lamongan Periode 2026/2027. Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yakni Achmad Aldi Ansya Firdaus dengan materi “Manajemen dan Tata Kelola Organisasi” serta M. Sutaqwim Izul dengan materi “Ideologi IMM dan Sejarah Kelahiran IMM”.

Sesi Pertama: Manajemen dan Tata Kelola Organisasi — Achmad Aldi Ansya Firdaus

Pada sesi pertama, pemateri menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar kumpulan individu, melainkan sebuah sistem yang memiliki visi, misi, tujuan, struktur, dan arah gerak yang jelas. Perbedaan mendasar antara organisasi dan kerumunan terletak pada adanya aturan main serta grand design yang menjadi pengarah setiap aktivitas kader.

Dalam pemaparannya, Achmad Aldi Ansya Firdaus menyampaikan: “Organisasi yang baik tidak hanya berjalan, tetapi dikelola. Tanpa manajemen yang terarah, organisasi akan kehilangan kompas dan bergerak tanpa tujuan.”

Beliau juga menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berproses agar setiap kader memiliki konsistensi dan akuntabilitas: “Perbaiki niat sebelum berproses, karena niat yang baik akan melahirkan sikap yang konsisten dan bertanggung jawab.”

Materi dilanjutkan dengan penjabaran prinsip POAC sebagai dasar manajemen organisasi:

  • Planning – perencanaan harus realistis, terukur, dan sesuai kapasitas organisasi.
  • Organizing – menempatkan anggota sesuai kompetensi dan karakter.
  • Actuating – memastikan program dilaksanakan, tidak berhenti pada konsep.
  • Controlling – melakukan evaluasi berkala agar kegiatan tetap pada jalur tujuan.

Selain itu, pemateri menyoroti pentingnya manajemen konflik melalui komunikasi sehat, musyawarah, dan penerapan prinsip kolektif–kolegial. Dalam keadaan tertentu, ketua tetap memegang hak prerogatif selama keputusan diambil berdasarkan rasionalitas dan kepentingan bersama.

Sesi pertama ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan pemateri mengenai strategi memperkuat tata kelola organisasi di PK IMM Ahmad Dahlan.


Sesi Kedua: Ideologi IMM dan Sejarah Kelahiran IMM — M. Sutaqwim Izul

Pada sesi kedua, M. Sutaqwim Izul memaparkan materi mengenai ideologi IMM dan sejarah kelahirannya. Ia mengawali dengan menjelaskan bahwa panitia menugaskannya untuk membedah buku Kelahiran yang Dipersoalkan karya Farid Fathoni AF, sebuah buku yang membahas sejarah IMM namun tidak diterbitkan secara resmi oleh DPP IMM, sehingga tidak beredar luas dan hanya menjadi bahan kajian tertutup di kalangan kader tertentu.

Pemateri menegaskan bahwa sejarah IMM tidak dapat dibaca secara parsial, melainkan harus dipahami sebagai rangkaian kesinambungan dari sejarah Islam → Negara → Muhammadiyah → IMM.

“Sejarah itu tidak pernah tuntas. Ia adalah sketsa yang terus bergerak. Cara kita membaca sejarah sangat dipengaruhi dari sudut mana kita melihatnya.”

Dalam pemaparannya, ia merunut perjalanan Muhammadiyah dari masa KH. Ahmad Dahlan (1912–1923), masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, hingga fase menguatnya dominasi politik Soekarno dan PKI pada 1956–1962. Pada masa itu, Muhammadiyah masih fokus pada konsolidasi internal, sehingga organisasi mahasiswa belum menjadi prioritas. Akibatnya, banyak mahasiswa Muhammadiyah berproses di organisasi lain seperti HMI, yang menimbulkan kekhawatiran arah kaderisasi.

Gagasan pendirian organisasi mahasiswa Muhammadiyah kemudian menguat pada Muktamar Pemuda tahun 1961, dan secara resmi melahirkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tahun 1964 di Yogyakarta melalui peran tokoh-tokoh seperti:

  • Drs. Moh. Djazman Al-Kindi
  • Soedibjo Markoes
  • H. Rosyad Sholeh

Pemateri juga menguraikan Enam Penegasan IMM, yaitu:

  1. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam.
  2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
  3. IMM berfungsi sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah.
  4. IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah.
  5. Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
  6. Amal IMM adalah lillahi ta’ala dan diabdikan untuk kepentingan rakyat.

Lebih lanjut, ideologi IMM dibangun atas tiga pilar utama:
  • Keislaman
  • Kemuhammadiyahan
  • Keilmuan

Pemateri menegaskan:

“Menjadi kader IMM berarti membawa dua kepentingan: kepentingan pribadi untuk berkembang dan kepentingan organisasi sebagai bentuk pengabdian. Tidak boleh hanya salah satunya.”

Sesi kedua ditutup dengan ajakan agar kader tidak hanya menghafal sejarah, tetapi menjadikannya pijakan untuk bergerak lebih progresif menghadapi tantangan zaman.

Kegiatan Upgrading Kader ini diharapkan menjadi momentum awal untuk memperkuat kapasitas intelektual, spiritual, dan organisatoris kader PK IMM Ahmad Dahlan Lamongan. Melalui pemahaman manajemen organisasi dan pendalaman ideologi IMM, peserta diharapkan mampu menjadi kader yang matang secara pemikiran, solid dalam gerakan, serta siap berkontribusi bagi persyarikatan, umat, dan bangsa. (Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Ahmad Dahlan, Periode 2026–2027)